Rabu, 23 November 2011

Sertifikasi Guru Ditargetkan Selesai 2013

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Syawal Gultom menyatakan optimistis proses sertifikasi guru akan selesai tahun 2013. Menurut dia, target ini lebih cepat dua tahun dari yang diagendakan.

Syawal menjelaskan, guru yang mengajukan sertifikasi pada 2010 mencapai 2.791.204 orang. Pada tahun 2011, sedikitnya ada 1.102.021 guru yang telah disertifikasi.

Jumlah 1.102.021 guru yang disertifikasi berasal dari 746.727 guru yang disertifikasi pada 2010, ditambah sisanya yang berasal dari proses sertifikasi tahun 2011.

Tahun 2010, dari 746.727 guru yang disertifikasi, sedikitnya ada 731.002 atau sekitar 97,9 persen guru yang tunjangan profesinya telah dibayarkan.
Sampai dengan 2011, ada sekitar 961.688 guru yang tidak lolos seleksi sertifikasi.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut menurut saya proses sertifikasi guru akan selesai dua tahun lagi. Setelah melewati berbagai seleksi, saya rasa tidak semua guru dari jumlah sekitar 900.000 itu akan lolos semua.

Ada beberapa kendala yang menyebabkan guru-guru tersebut tidak lolos seleksi sertifikasi, misalnya tidak memenuhi syarat karena belum mendapatkan gelar sarjana (S-1) ataupun belum berusia minimal 50 tahun dan telah memiliki masa kerja selama 20 tahun.

"Berdasarkan fakta-fakta tersebut, menurut saya, proses sertifikasi guru akan selesai dua tahun lagi. Setelah melewati berbagai seleksi, saya rasa tidak semua guru dari jumlah sekitar 900.000 itu akan lolos semua," kata Syawal kepada para wartawan dalam jumpa pers peringatan Hari Guru, Rabu (23/11/2011), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Menurut dia, yang terpenting dari proses sertifikasi guru adalah melakukan seleksi yang lebih adil dan akuntabel dengan mendahulukan orang-orang yang memang memiliki kemampuan lebih baik atau waktu mengabdi lebih lama.

"Hakikat dari sertifikasi adalah bagaimana mendahulukan orang-orang yang lebih baik," ujarnya.

Sebelumnya dirilis, menurut rencana, pada tahun 2012 ada 300.000 guru yang akan disertifikasi. Sejak dimulai tahun 2007, terdapat 1.101.552 guru yang telah mengikuti sertifikasi. Dari 2.925.676 jumlah total guru pada tahun 2011, sekitar 746.727 guru di antaranya (25,5 persen) telah bersertifikat. Dari guru bersertifikat itu, 731.002 guru (97,9 persen) telah menerima tunjangan profesi.


(Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/11/23/14234814/Sertifikasi.Guru.Ditargetkan.Selesai.2013?mid=5371391)

Apakah penting memilih Kepala Sekolah berkualitas ?

Siapakah yang paling berperan terhadap mutu suatu sekolah: Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, UPTD, Kepala Dinas Pendidikan, atau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ?. Kebanyakan responden memilih jawaban GURU. Memang tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar karena sebagai satu kesatuan organisasi pendidikan, guru merupakan salah satu elemen saja. Elemen lain yang tak kalah pentingnya adalah Kepala Sekolah (Kepsek).

Kepsek merupakan penguasa tunggal dalam satu satuan pendidikan yang menjadi kepanjangan tangan dari semua kebijakan dari tingkat lokal, regional dan nasional. Kepsek harus bisa mengelaborasi dan menterjemahkan tujuan pendidikan nasional. Kepseklah yang melakukan pengendalian, pengontrolan dan penilaian terhadap sekolahnya sendiri secara internal. Seluruh warga sekolah akan menggantungkan keputusan akhir dari suatu kebijaksanaan sekolah kepada Kepsek.

Berdasarkan PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 13 TAHUN 2007 TANGGAL 17 APRIL 2007 TENTANG STANDAR KEPALA SEKOLAH/ MADRASAH syarat umum Kepala Sekolah/Madrasah adalah sebagai berikut:

a. a. Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau nonkependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi;

b. b. Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi-tingginya 56 tahun;

c. c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun menurut jenjang sekolah masing-masing, kecuali di Taman Kanak-kanak /Raudhatul Athfal (TK/RA) memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan

d.d. Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi non-PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang.


Dari persyaratan di atas tersurat bahwa umur kepsek yang diinginkan adalah umur-umur produktif sampai batas 56 tahun. Sebelum umur tersebut diyakini seseorang mempunyai pengalaman yang cukup tetapi masih mempunyai energi yang cukup untuk mengemban dan mengembangkan sekolah mencapai prestasi yang lebih baik.

Senin, 21 November 2011

Mengapa Indonesia (selalu) kalah dengan Malaysia

Gegap gempita Sea Games XXVI tahun 2011 di Palembang-Jakarta baru saja berakhir. Indonesia keluar sebagai juara pada pergelaran olahraga yang diikuti oleh negara-negara asia tenggara. Tapi, stadion Gelora Bung Karno justru menjadi saksi bisu kekecewaan masyarakat Indonesia ditengah kebahagiaan menjadi juara umum (182 medali emas, 151 perak, 142 perunggu), karena sepakbola Indonesia bertekuk lutut terhadap Malaysia dengan kedudukan 3-4 (1-1) dari drama adu pinalti pada final yang ditonton hampir semua masyarakat di tanah air. Banyak air mata menetes pilu, tak sedikit kepala tertunduk lesu, helaan nafas panjang yang tak menentu. Rasanya rasa kebangsaan kita menjadi haru-biru dihadapan sang tuan: Malaysia. Lebih memilukan lagi saat bendera dan lagu kebangsaan Malaysia berkumandang.....justru di tanah air Indonesia, bukan merah putih dan bukan Indonesia Raya. Mengapa Indonesia selalu kalah hati, setelah sebelumnya juga sudah kalah 0-1 terhadap Malaysia pada babak kualifikasi Group. Kekalahan ini menggenapkan peristiwa setahun yang lalu di Piala AFF 2010, dimana Indonesia harus memungut bola 3 kali (0-3) di negara Malaysia dan saat di Indonesia memang menang 2-1, tetapi kalah agregat (jumlah goal: 2-4).

Indonesia, hampir selalu mengalah atau kalah, dalam beberapa versus berhadapan dengan Malaysia. Persoalan batas negara, permasalahan Tenaga Kerja Indonesia, apalagi karya-karya seni Indonesia yang pernah diklaim, menjadi daftar panjang keterpurukan mental Indonesia terhadap negara Jiran tersebut. Padahal dari sudut geografis dan jumlah penduduk, Indonesia lebih besar. Dari sudut sejarah, Indonesia lebih dahulu maju dan berkembang (Malaysia pernah mengimpor guru dari Indonesia). Dari sudut kekayaan budaya dan prestasi seni, Indonesia lebih diperhitungkan di mata dunia. Lalu kurang apa Indonesia kita ....?

MENTAL !. Indonesia kalah hati terhadap Malaysia. Saya khawatir kita sudah mulai bergerak menjadi Negara Budak (Slave Nation). Apakah trace kita sebagai negara terjajah demikian terpatri kuat sampai berpuluh-puluh generasi. Mana mental Majapahit dulu yang pernah menundukkan hampir seluruh jazirah Asia. Mana mental Sriwijaya yang mampu menaklukkan ganasnya lautan samudera. Kemana hilangnya mental juara itu, mental baja, mental pemenang...... mengapa pemain kita yang sanggup menahan 1-1 Malaysia di pertandingan 2 X 45 menit sampai perpanjangan 2 X 30 menit, tiba-tiba tidak percaya diri saat 5 X adu pinalti. Bukankah hal itu sudah merupakan bagian rule dari permainan sepak bola. Bahkan mereka harusnya juga siap saat nantinya berlanjut ke ‘sudden dead’. Pelatih Timnas Rahmad Dharmawan mengakui timnya kalah mental dari lawannya tersebut. Sebelum drama adu penalti, ia menyatakan hanya tiga pemainnya yang siap untuk menendang penalti sehingga harus memberi suntikan moral agar pemain lainnya mau melaksanakan tugas penting itu. "Kita sudah siapkan adu penalti dalam latihan, tapi memang belum tentu mereka memang siap di pertandingan besar. Dari lima penendang tadi, yang siap sebetulnya cuma tiga pemain," ungkapnya. Pertanyaan berikutnya apakah mungkin para pemain sepakbola kita secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan negara Malaysia. Dalam arti kata, keluarga atau saudara-saudara mereka memang banyak mencari nafkah, mengais rezeki dan menggantungkan hidupnya di negara Malaysia, sehingga tanpa sadar telah mengubah mental mereka menjadi budak yang punya rasa takut atau sungkan dengan ‘tuan’nya. Atau rasa kebangsaan kita telah terkikis sedikit demi sedikit oleh dominansi Malaysia dari kemenangan beberapa kasus-kasus seperti tersebut di atas. Dus dengan demikian Malaysia seperti telah tumbuh menjadi ‘juragan’ bagi hati orang Indonesia, yang merupakan lanjutan dari insting ‘budak’ orang pribumi terhadap negara-negara asing lainnya. Kalau sudah demikian, sampai kapan kita menunggu bangsa ini menjadi ‘tuan’ di negaranya sendiri ?

Mental, sekarang perlu menjadi perhatian utama. Bagaimanapun training center dilakukan, keterampilan permainan dipupuk, konsentrasi difokuskan pada strategi permainan tapi bila mental-mentalnya tidak dipersiapkan dengan tangguh, maka semua permainan hanya mengandalkan untung-untungan semata, selalu berkilah dibalik ‘dewi fortuna’. Coba bandingkan dengan peristiwa di MotoGP seri penutupan akhir tahun 2011 dimana Casey Stoner berlaga di motor 800 cc dan di putaran-putaran akhir berada di posisi dua di belakang Andrea Dovisioso. Tetapi mental juara yang terpatri telah menyebabkan Stoner terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Didetik-detik terakhir saat belokan finish, ban depan Stoner menyentuh lebih cepat hanya beberapa centimeter di depan Dovisioso. Padahal bilapun Stoner kalah, dia akan tetap menjadi Juara Dunia 2011. Namun persoalan mental telah menjadi pemacu dan pemicu yang memelihara hati tetap tangguh dan pantang menyerah, karena bagaimanapun berdiri di podium nomer 1 merupakan pupuk paling mujarab untuk meraih kemenangan-kemenangan berikutnya.Sebagai bangsa yang besar, luas dan beragam persoalan mental harus mulai dipikirkan kembali sebagai bagian penting melalui ranah pendidikan. Mental kita perlu direparasi habis-habisan, mulai dari diri kita, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai dari .......sekarang juga !